Sejarah

Sejarah

SEJARAH DESA SUMURWIRU

 

Desa Sumurwiru adalah sebuah Desa yang terbilang tua, Walaupun jumlah penduduknya relative kecil dibandingkan dengan Desa lain disekitarnya.

Desa Sumurwiru adalah nama ganti dari nama desa sebelumnya yaitu gambol yang nampaknya nama tersebut masih melekat sehingga untuk nama tersebut masih sama popularitasnya bagi masyarakat sekitarnya.

Gembol, begitu nama asli sebuah desa yang mempunyai batas – batas desa, sebelah selatan adalah desa sukarapih , sebelah barat dan utara Kawasan kehutanan , dan sebelah timur adalah sukamaju, sejak tahun 1869 gembol sudah merupakan perkampungan penduduk (layaknya sebuah desa) yang ditandai dengan suatu system pemerintahan dibawah seorang kepala desa.

Berbicara tentang sejarah desa sumurwiru adalah merupakan suatu hal yang tak terpisahkan dari sejarah keberadaan Kabuapaten Kuningan, dimana berdasarkan periodesasi sejarah baik itu ditinjau dari politik pemerintahan yaitu masa/periode kabupaten ataupun ditinjau dari perjalanan sejarah bangsa pada umumnya yaitu masa kuningan pada zaman Cirebon dalam pengaruh mataram sampai zaman kebangkitan nasional tahun 1600-1900. Bahkan sampai sekarang dimana Desa sumurwiru adalah sebuah desa dari sekian banyak desa di kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan.Dalam Paparan ini insya allah akan digali sejarah Desa Sumurwiru ditinjau dari berbagai segi diantaranya :

  • Riwayat nama gambol dan Sumurwiru
  • Sistem Politik Pemerintahan dari masa ke masa
  • Nama nama dan Tempat tempat bersejarah
  • Adat masyarakat yang turun temurun
  • Sumurwiru Kini
  • Simpulan

 

 

 

  1. SEJARAH DESA SUMURWIRU DARI MASA KE MASA

1.Kisah Nama Gembol dan Sumurwiru

         Nama Gembol memiliki berbagai makna, dari etimologinya/harfiahnya ‘’Gembol’’ adalah kata sunda wewengkon/dialek artinya gembolan atau buntelan (bawaaan yang dikemas dalam kain sarung).

         Gembol mempunyai konotasi bawaan yang sedikit, hal ini dimungkinkan dari nama sebuah desa dengan wilayah yang sempit dan penduduk yang kecil jumlahnya. Termasuk sosial ekonominya yang sederhana.konon kabarnya di sebuah tempat sebelah timur Desa Sumurwiru terdapatlah sebuah sumur tua Namanya bako berdekatan dengan sumur tua tersebut terdapat pohon jati yang besar dimana di tengah pohon tersebut kembung (ngagembol).keanehan pohon jati tersebut kemudian dinisbatkan jadi sebuah nama kampung gambol (Desa Gembol). Secara harfiah nama sumurwiru berasal dari dua kata yaitu sumur dan wiru yang artinya sumur yang airnya berwarna biru.

Nama Gembol dijumpai pula secara resmi dalam peta peta militer dan Peta peta di Lembaga Geologi bertitimangsa tahun 1920-an

Adapun pergantian nama dari nama Gembol ke Sumurwiru adalah sekitar Tahun 1870-an.

  1. POLITIK PEMERINTAHAN

Lebih kurang tahun 1869 – 1884 Desa Sumurwiru dipimpin oleh seorang kepala desa dengan nama djayadimerta. Beliau adalah kandidat kades cimara yang terpilih kemudian mengajukan usul mendirikan sebuah desa dikampung gambol yang kemudian usulannya dikabulkan dan ia sendiri menjadi kepala desanya yang pertama dengan batas-batas wilayah yang telah ditetapkan dengan nama desa sumurwiru.

         Alkisah menyatukan suatu saat kuwu Djajadimerta merasa wilayahnya sangat sempit, maka usaha pak kuwu ini tidak mendapat restu dari kuwu cimara yang akhirnya kedua belah pihak bitotama tandang makalangan adu jajaten dengan cara pertandingan ‘’Tarik Tambang’’ dalam Tarik tambang tersebut kuwu sumurwiru harus mengakui keunggulan lawan, Alhasil wilayah sumurwiru tetap seperti sebelumnya. Pada masa jabatannya kuwu Djajadimerta terjadilah peristiwa besar yaitu terjadi kebakaran desa dengan melalap semua perlengkapan desa termasuk Gedung dan alat kesenian lainnya.Akhirnya terpaksa desa pindah ke sebelah barat menjorok  ke kehutanan sekarang. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya sebuah makam salah seorang tokoh masyarakat yaitu Ki Kempi dan sampai sekarang pada lingkungan tersebuat biasa disebut masyarakat blok ki kempi.

Selanjutnya sumurwiru diperintah oleh kuwu Djajakaria 1884-1895, Sumurwiru selanjutnya diperintah oleh kuwu Karta Sudarma bin Sukmabrata asal kuningan. Beliau adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, diantaranya yang pertama adalah seorang mantri cacar di Buniseuri Ciamis Jawa Barat dan yang kedua wasmi  (Istri kuwu sindangjawa – Cibingbin).Istri Karta Sudarma berasal dari Buniseuri yaitu . Ny. Ruwita binti Mas Nata Manggala. Sebelum jadi kepala Desa Raden Mas Karta Sudarma adalah sebagai juru tulis utusan dari kuwu sindangjawa. Dimana saat saat tersebut Sumurwiru sudah mendapat pengaruh sindangjawa .Kuwu Raden Mas Karta Sudarma adalah seorang pendatang yang kemudian punya banyak keturunan hingga sekarang, bahkan ada yang menjadi kepala desa seperti darmajaya , suami Kayah Ardiwinata Partawinata dan terakhir Maman Rohmana.

Periode selanjutnya Sumurwiru diperintah oleh Djaja Perwata yang memerintah sejak Tahun 1914-1920 selama kurang lebih  6 Tahun. Djaja Perwata adalah seorang berasal dari Cimara. Setelah Sumurwiru dipimpin  oleh 4 orang kepala desa selama 4 periode dengan waktu yang berbeda  tahun 1920 sampai Tahun 1945 Sumurwiru digabungkan dengan Desa Sindangjawa yang waktu itu Sumurwiru hanya diurus oleh seorang lurah , kulisi, lebe, dan kemit (yang termasuk sikep)tiap hari 2 orang dari sejumlah 24 orang.

Perjalanan Sejarah sumurwiru selanjutnya adalah berkat keinginan yang luhur dari pada tokoh terkemuka disertai perjuangan yang gigih, Sumurwiru Kembali menjadi sebuah desa Tahun 1945. Jabatan kades yang terlama pada periode ini adalah Darmajaya (anak bungsu Mas Karta Sudarma) yang terpilih secara demokratis melalui kodrah dengan hak pilih sebanyak 132 orang. Masa Kepala Desa Darmajaya berlangsung sejak Tahun 1945-1957 dimana masa ini sejalan dengan sejarah perjalanan bangsa adalah masa perang kemerdekaan tak heran apabila kondisi ini berpengaruh terhadap desa ini diantaranya adalah yang membekas dihati rakyat hadirnya belanda Bersama sekutu. Kuningan jadi ajang perundingan di Linggarjati lebih-lebih setelah terjadinya agresi belanda pertama dan kedua Tahun 1947 dan 1949, yang lebih memprihatinkan adalah pengaruh DI/TII setelah terjadi perjanjian Renville pada masa PM Mr. Amir Syarifudin dimana Jawa Barat adalah wilayah kantong belanda sehingga TNI Devisi Siliwangi harus hijrah ke Yogjakarta maka lahirlah DI/TII Jawa Barat, tak heran bila Sumurwiru jadi sasaran pasukan DI/TII pengaruh dari Jawa Tengah pimpinan amir Fatah, banyak rumah dibakar , penduduk ditembak, dan harta rakyat dijarah , hal ini terulang Kembali pada masa kepala desa selanjutnya. Perangkat Desa pada masa ini adalah Aja Santana (Juru Tulis Kanta Perwata). Djajawinata (Kulisi), Suita Kasan Ruyat (Ketib) dan Prawira Santana (Raksabumi).

         Kades Berikutnya adalah Ardi Winata tahun 1958-1959 pada masa pemberontakan DI/TII masih ada bahkan semakin gawat dimana Sebagian Desa Utara-Timur dan yang lain habis dibakar dan banyak penduduk yang menjadi korban, sehingga banyak rakyat yang mengungsi dan wilayah pingiran diadakan pemagaran ketat dengan bambu. Pada masa ini, awal-awal Tahun 1965 banyak terjadi agitasi PKI menghasut rakyat untuk mengikutinya, sampai terjadinya pemberontakan G30S/PKI Tahun 1965.Hal ini dimungkinkan karena sumurwiru diapit oleh dua tetangga Desa yang jadi ajang penyebaran komunisme yaitu Cimara dan Cibeureum. Adapun Perangkat Desa pada masa ini Karta Perwata (Juru Tulis), Subandi (Ngabihi), Suita Kasan Ruyat (Kulisi), Rumli (Kulisi), Suryani (Ketib) dan ditambah beberapa orang Patok Bale, pada mas ini berhasil membangun SD.

         Selanjutnya pada Tahun 1971 Kepala Desa Sumurwiru dijabat oleh Parta Winata (Cucu RM Karta Sudarma) Pada masa ini  sudah ada bantuan subsidi Desa Sebesar 10 Juta Rupiah pengerjaannya olek Eks PKI Se-Kecamatan Cibingbin, Perangkat Desa Pada masa ini adalah Kanta Perwata (Juru Tulis), Subandi (Ngabihi), Rumli (Kulisi), Kuswadi (Kulisi), Suryani (Ketib) .

         Kades berikutnya Parma Wisastra Tahun 1972-1975 dengan perangkat Desa  : subandi (juru tulis), Rumli (Ngabihi), Kusnadi (Lurah), Rohimin (Kulisi) dan Suryani (Ketib) pada masa ini perangkat desa di tunjang oleh LSM. Berhasil dibangun 3 lokal Gedung SD, dengan biaya subsidi di tambah biaya swadaya masyarakat.

         Selanjutnya 1976-1987 Kepala Desa dipegang oleh Kusnadi. Pada masa ini pemerintahan Desa ditunjang oleh LMD dan LKMD, Adapun pamong desa pada masa ini adalah : Rumli (Juru Tulis), Suhendi (Kulisi), Sautisna (Raksa Bumi), Tarjo (Lurah), Suryani (Ketib). Hasil Pembangunan pada masa ini adalah Gedung SD tiga lokal atas bantuan pemerintah dan tiga local hasil swadaya masyarakat. Pada masa pemerintahan ini mulai direncanakan Pembangunan Balai Desa dan Masjid Jami Ash-Shiratul Jannah, serta pada masa ini pula dibangunlah saluran air bersih dengan debit air 10 liter/detik yang diambil dari sumber air Cipeundeuy (wilayah perbatasan dengan Desa Sukarapih) dengan jarak ± 2 km atas bantuan PERWARL Pada masa ini pula terbentuklah Karang Taruna Muda Mudi Harapan Kita (MAMIHAK) atas Prakarsa  TKS Butsi (Bapak Jarot Subroto).

         Tahun 1988-1998 Jabatan kades dipegang oleh M.Dasuki melalui pemilihan secara demokrasi dengan calon tungggal. M.Dasuki adalah seorang purnawirawan TNI asal Subang Kuningan yang mempunyai basis kejuangan di Desa Sumurwiru setelah menghabiskan masa baktinya di Jakarta , pada masa ini pula nama Sumurwiru melambung tinggi ketingkat provinsi dengan dipercaya ikut lomba UP2K dan meraih juara kedua , Kader PKK dikabupaten Kuningan melalui kiprah  ‘Pemanfaatan Pekarangan Rumah ‘’ selain itu berhasi pula dibangun Gedung Madrasah Diniyah Awaliyah Al-Hadi habis dengan biaya bantuan Daerah dan Swadaya Masyarakat (Sebanyak 3 Lokal), ada peristiwa bersejarah pada masa ini dimana selama itu penggunaan bedug merupakan hal yang tabu desa sejak terjadinya kebakaran pada masa kades Djajadimerta, tanggal 30 Juni 1995 terjadilah upacara pemusnahan tabuh bedug, pemukulan bedug diawali oleh Bapak Camat Momon Sutisna dan KH.Tajudin Nur dari Suryalaya.Perangkat Desa pada masa ini  :Rumli (Juru Tulis), Tarjo (Lurah), Suhendi (Kulisi), Aedihim (Ketib), dan Sutisna (Raksabumi)

         Kades Berikutnya adalah Maman Rohmana yang diangkat Tanggal 29 November 1999 melalui pemilihan calon tunggal dengan meraih suara 483 dari 700 hak pilih. Masa ini sudah Nampak reformasi di Negara kita tercinta . Perangkat Desa Pada masa ini  afalah : Aedihim (Sekdes), Waskoni (Kaur Pemerintahan) Nasrudin (Kaur Ekbang), Tarjo (Kadus), Abdul Hamid (Kaur Kesra).

  1. Nama-nama Dan Tempat Bersejarah :
  2. Gembol : Pohon jati besar kembung ditengah tengah (ngagembol) terdapat disebelah timur desa dipinggir sumur bako.
  3. Kisayem : Letaknya sekitar kebun sereh (sebelah timur desa) nama tersebut diambil dari nama seorang penduduk cimara yang bercocok tanam huma Namanya aki dan nini sayem.
  4. Makam Panjang : makam yang panjangnya lebih dari makam pada umumnya yaitu makam buyut Panjang yang terletak disebelah barat desa.
  5. Ki Kempi : setelah desa terjadi kebakaran pindah ke sebelah barat desa , ditempat tersebut terdapatlah makam tokom masyarakat Namanya Aki Kempi.
  6. Naladita/Ditanala : Pemakaman hilir di samping pemakaman umum, terdapat pula makam tokoh masyarakat Naladita/Ditanala
  7. Gasoli : Tempat pandai besi yang terdapat di sebelah desa sumurwiru
  8. Sumurlame : Sumur yang terdapat disebelah desa Sumurwiru, dei dekat sumur tersebut terdapat pohon lame (kulai)
  9. Nama nama blok Desa Sumurwiru :
  • Blok Sumurlame ( RT.003/001)
  • Blok Sumurbako (RT.001/002 )
  • Sumur Tonggoh (RT.002/002)
  • Blok sarana (RT.003/002 dan RT.004/002)
  1. Adat Masyarakat Desa Sumurwiru
  2. Hajat Bumi / Sedekah Bumi : Sebuah acara syukuran kepada Allah SWT yang telah memberikan tempat bagi Desa Sumurwiru supaya tetap subur Makmur dan menjadi keberkahan
  3. Babarit : Sebuah acara permohonan kepada Allah SWT seluruh masyarakat atau supaya tolak bala setelah banyak terjadinya bahaya yang melibatkan seluruh / Sebagian besar masyarakat
  4. Rebo wekasan : Sebuah Acara yang berlangsung Hari Rabu Pamungkasan dari sebuah bulan (Satu Tahun Sekali) dimana masyarakat mengambil air doa dari masjid bagi kemaslahatan warga Desa
  5. Munjung / Nyekar : Upacara seluruh warga ziarah ke makam Desa untuk mendoakan agar arwah ahli ahli sumurwiru diampuni segala dosanya oleh Allah SWT, termasuk pengharapan kepada Allah SWT agar segera diberi turun hujan.
  6. Walaupun masyarakat Sumurwiru tidak terbilang desa santri tapi keislaman masyarakat terbilang taat, sehingga setiap hari – hari besar islam senantiasa diperingati.
  7. Sumurwiru Kini

Sumurwiru dimasa sekarang ini adalah sumurwiru membangun terdiri dari 1 dusun dan 2 RW serta 9 RT. Sebagian besar penduduknya adalah Bertani disawah, dikebun dan ladang . Sedikit pegawai negeri sipil dan beberapa orang veteran , dan sudah sejak lama banyak warga yang merantau kejakarta dan ketempat tempat lain seperti bandung , Sumatra. Hal ini terjadi kebanyakan adalah dalam rangka mencari nafkah . Banyak warga sumurwiru yang berhasil di perantauan di tinjau dari segi ekonomi. Sudah banyak kontribusinya bagi pembangunan desa.

Desa Sumurwiru diantara sekian banyaknya desa di kecamatan cibeureum terbilang desa kecil dengan penduduknya kecil pula jumlahnya termasuk desa swadaya yang baru merangkak maju.sehingga kondisinya masih dikatakan sederhana.

C.KESIMPULAN

Demikian sekelimit tentang kilas balik sejarah desa sumurwiru yang barang tentu masih sangat dangkat perlu adanya penyempurnaan dimasa yang akan dating , tentunya dengan penelitian yang lebih ilmiah dan terarah dengan informan yang lebih lengkap sehingga akan lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kesimpulan dari sejarah Desa Sumurwiru ini adalah desa yang berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, dan sejak saat itu pula sudah berjalan tata pemerintahan yang rapih dengan seperangkat adat yang ditaatinya dari masa kemasa, dengan pola kekerabatan matrialineal dan patrilineal  membuat rakyatnya komunikatif dan cepat akrab.

Desa Sumurwiru dulu dan sekarang telah mengalami perubahan sejalan dengan derap dan gerak masyrakatnya itu sendiri

Akhirul kalam semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat bagi upaya pembangunan Desa Sumurwiru dimasa yang akan dating di era otonomi daerah dengan bertumpu dari, oleh dan untuk masyarakat Sumurwiru, semoga dengan moto  “Pek pake saacan aya anu hade’’ Kiranya sejarah ini dapat dijadikan ketetapan desa

 

Catatan ini disusun oleh : A.Burhan Arsyad

Sumber Rujukan :

  1. Rumli, Catatan lepas 2000
  2. Burhan Arsyad, Eyang Raden Mas Karta Sudarma 1987